Mobile Menu

navigasi

More News

Sejarah Kota Meulaboh Aceh Barat

Maret 24, 2022

Meulaboh merupakan ibu kota Kabupaten Aceh beasiswa Barat, Aceh, Indonesia. Kota ini terletak kurang lebih 175 km tenggara Kota Banda Aceh pada Pulau Sumatera. Meulaboh meliputi Kecamatan Johan Pahlawan, sebagian Kaway XVI & Kecamatan Meureubo. Meulaboh merupakan kota kelahiran Pahlawan Nasional Teuku Umar Johan Pahlawan. Meulaboh merupakan kota terbesar pada pesisir barat-selatan Aceh & keliru satu area terparah dampak bala tsunami yang pada picu sang gempa bumi Samudra Hindia 2004. Pekerjaan sebagian besarpenduduknya mencerminkan kehidupan perkotaan, yakni perdagangan dan jasa.

Sejarah Singkat Kota Meulaboh

Sebelum dikenal dengan sebutan Meulaboh, dahulunya kawasan tanjung ini bernama Pasi Karam. Penyebutan Meulaboh diduga bertenaga terkait menggunakan letaknya yg berdekatan menggunakan bahari sebagai akibatnya menjadikannya menjadi tempat pelabuhan yang strategis. Disamping itu, terdapat pula pendapat yang menyampaikan bahwa penyebutan Meulaboh terkait menggunakan sejarah eksodusnya sejumlah masyarakat Minangkabau menurut Sumatera Barat yang ketika itu berada dibawah cengkeraman penjajah belanda ke sejumlah titik pada sepanjang pesisir Barat & Selatan Aceh. Dalam versi ini, dikisahkan bahwa diantara gelombang besarpengusirantersebut terdapat grup kecil yang berlabuh di Pesisir Kota Meulaboh kini, kemudian insiden pendaratan ini di kait-kaitkan dengan asalmuasal penamaan “Meulaboh”, mengingat istilah “Meulaboh” sendiri pada bahasa Aceh berarti “berlabuh”. Meulaboh tercatat menjadi daerah ramai pertama Aceh Barat di abad ke-16 yang pada saat itu diperintah raja bergelar Teuku Keujruen Meulaboh. Meulaboh sebelum bala gempa tsunami banyak ditemukan tempat sejarah seperti makam kolonial Belanda tepatnya didepan Makorem Meulaboh, juga ditemukan peninggalan Jepang seperti Bunker pertahanan.

Pada zaman kolonial Belanda, daerah pesisir barat-selatan Aceh berbentuk homogen afdeeling dengan sebutan “West Kust Van Atjeh”, yang wilayahnya terbentang menurut daerah Kabupaten Aceh Jaya sekarang hingga ke Aceh Singkil yg berbatasan menggunakan Sumatera Utara dengan Meulaboh sebagai makkotanya. Selanjutnya dalam zaman jepang hanya terjadi perubahan pada penamaanya saja, sementara secara administratif, daerahnya masih sama..Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Aceh Barat dimekarkan menjadi Aceh Barat yg beribukotakan Meulaboh & Aceh Selatan menggunakan ibukota Tapak Tuan berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1956 dalam 4 November 1956.Sejak tahun2002, Meulaboh sendiri setidaknya menggambarkan seluruh daerah Aceh Barat sekarang, yang dulunya diklaim kewedanaan Meulaboh. Pusat pemerintahan kabupaten terletak di Meulaboh.Meulaboh lebih tepat dianggap menjadi tempat yang terdiri berdasarkan 7 kelurahan & 13 desa di Kecamatan Johan Pahlawan. Meulaboh mempunyai akses ke pantai Aceh Barat, tetapi tidak seluruh wilayah pantai adalah daerah Meulaboh karena akses pantai Meulaboh hanya dua kelurahan.Sebanyak 61% berdasarkan 55.000 penduduk Kecamatan Johan Pahlawan bermukim di 7 kelurahan yg membentuk Meulaboh.

Raja-raja yang pernah bertahta di kehulu-balangan Kaway XVI hanya bisa dilacak menurut T. Tjik Pho Rahman, yang lalu digantikan oleh anaknya yang bernama T.Tjik Masaid, yg lalu diganti sang anaknya lagi yg bernama T.Tjik Ali dan digantikan anaknya oleh T.Tjik Abah (sementara) dan lalu diganti oleh T.Tjik Manso yg mempunyai 3 orang anak yang tertua menjadi Raja Meulaboh bernama T.Tjik Raja Nagor yang pada tahun 1913 tewas dunia lantaran diracun, & lalu digantikan oleh adiknya yg bernama Teuku Tjik Ali Akbar, ad interim anak T.Tjik Raja Nagor yang bernama Teuku Raja Neh, masih kecil.

Saat Teuku Raja Neh (ayah dari H.T.Rosman. mantan Bupati Aceh Barat) anak menurut Teuku Tjik Raja Nagor akbar beliau menuntut supaya kerajaan dikembalikan kepadanya, tetapi T.Tjik Ali Akbar yang dekat menggunakan Belanda malah mengfitnah Teuku Raja Neh sakit gila, sehingga mengakibatkan T Raja Neh dibuang ke Sabang.

Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Meulaboh, T.Tjik Ali Akbar dibunuh sang Jepang beserta dengan Teuku Ben dan pada tahun 1978, mayatnya baru ditemukan di bekas Tangsi Belanda atau kinidi Asrama tentara Desa Suak Indrapuri, kemudian Meulaboh diperintah para Wedana & para Bupati dan lalu pecah menjadi Aceh Selatan, Simeulue, Nagan Raya, Aceh Jaya.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 mengenai pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Utara, daerah Aceh Barat dimekarkan sebagai dua (2) Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Barat & Kabupaten Aceh Selatan. Kabupaten Aceh Barat menggunakan Ibukota Meulaboh terdiri dari tiga daerah yaitu Meulaboh, Calang & Simeulue, dengan jumlah kecamatan sebesar 19 (sembilan belas) Kecamatan yaitu Kaway XVI, Johan Pahlwan, Seunagan, Kuala, Beutong, Darul Makmur, Samatiga, Woyla, Sungai Mas, Teunom, Krueng Sabee, Setia Bakti, Sampoi Niet, Jaya, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Simeulue Barat, Teupah Selatan dan Salang. Sedangkan Kabupaten Aceh Selatan, mencakup wilayah Tapak Tuan, Bakongan dan Singkil dengan ibukotanya Tapak Tuan. 

Pada Tahun 1996 Kabupaten Aceh Barat dimekarkan lagi sebagai dua (2) Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat mencakup kecamatan Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya dengan ibukotanya Meulaboh & Kabupaten Adminstrtif Simeulue mencakup kecamatan Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan & Salang menggunakan ibukotanya Sinabang.

Kemudian pada tahun 2000 menurut Peraturan Daerah Nomor lima, Kabupaten Aceh Barat dimekarkan menggunakan menambah 6 (enam) kecamatan baru yaitu Kecamatan Panga; Arongan Lambalek; Bubon; Pantee Ceureumen; Meureubo dan Seunagan Timur. Dengan pemekaran ini Kabupaten Aceh Barat memiliki 20 (2 puluh) Kecamatan, 7 (tujuh) Kelurahan dan 207 Desa. 

Selanjutnya dalam tahun 2002 Kabupaten Aceh Barat daratan yang luasnya 1.010.466 Ha, sekarang telah dimekarkan menjadi 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat dengan dikeluarkannya Undang-undang N0.4 Tahun 2002. 

Lambang Daerah Kabupaten Aceh Barat ditetapkan menurut perda Kabupaten Aceh Barat No. 12 Tahun 1976 Tanggal 26 Nopember 1976 mengenai Lambang Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Barat dan sudah menerima ratifikasi dari Menteri Dalam Negeri dari Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor Pem./10/32/46-263 Tanggal 17 Mei 1976 serta sudah diundangkan pada Lembaran Daerah Tingkat II Aceh Barat Nomor 10 Tahun 1980 Tanggal 3 Januari 1980.

Lambang Kabupaten Aceh Barat mempunyai perisai berbentuk kubah mesjid yg berisi lukisan lukisan dengan bentuk, rona dan perbandingan berukuran eksklusif dan memiliki maksud serta makna menjadi berikut:Perisai berbentuk kubah mesjid, melambangkan ketahanan Nasional & kerukunan yang dijiwai oleh semangat keagamaan;Bintang persegi 5, melambangkan falsafah negara, Pancasila;Kupiah Meukeutop, melambangkan kepemimpinan;Dua tangkai kiri kanan yang mengapit Kupiah Meukeutop terdiri menurut kapas, padi, kelapa dan cengkeh, melambangkan kesuburan & kemakmuran wilayah;Rencong, melambangkan jiwa patriotik/kepahlawanan rakyat;Kitab dan Kalam, melambangkan ilmu pengetahuan dan peradaban;Tulisan "Aceh Barat" mengandung arti bahwa seluruh unsur tersebut diatas masih ada pada dalam Kabupaten Aceh Barat.

Lambang Daerah ini dipakai sebagai merek bagi perkantoran pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan ;Sebagai petanda batas daerah Kabupaten Aceh Barat menggunakan Kabupaten lainnya.Sebagai cap atau stempel jabatan dinas.Sebagai lencana yang dipakai sang pegawai pemerintah Kabupaten Aceh Barat yg sedang menjalankan tugasnya.Sebagai panji atau bendera dipakai sang suatu rombongan yg mewakili atau atas nama pemerintah Kabupaten Aceh Baratdan dapat digunakan pada loka tempat upacara resmi, pintu gerbang & lain sebagainya.

Lambang Daerah Kabupaten Aceh Barat ini dihentikan digunakan jika bertentangan menggunakan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 1976 dan barang siapa yang melanggarnya bisa dikenakan hukuman selama-lamanya 1 bulan atau hukuman setinggi-tingginya Rp. 10.000.- (sepuluh ribu rupiah).

Sebelum pemekaran, Kabupaten Aceh Barat mempunyai luas wilayah 10.097.04 km² atau 1.010.466 hektare & secara astronomi terletak dalam dua°00'-5°16' Lintang Utara & 95°10' Bujur Timur dan merupakan bagian wilayah pantai barat & selatan kepulauan Sumatera yg membentang dari barat ke timur mulai berdasarkan kaki Gunung Geurutee (perbatasan menggunakan Kabupaten Aceh Besar) sampai kesisi Krueng Seumayam (perbatasan Aceh Selatan) menggunakan panjang garis pantai sejauh 250 Km.

Komentar 0
Sembunyikan Komentar

0 σχόλια:

Posting Komentar