Mobile Menu

navigasi

More News

Penilaian Acara Pengendalian Filariasis Menurut Aspek Implementasi Kebijakan Di Kabupaten Aceh Jaya Provinsi Aceh

Maret 23, 2022

Yulidar YulidarNelly MarissaVeny WilyaRosdiana RosdianaEka FitriaUlil Amri ManikEka RandianaIbnu Muhsi

Keywords:Implementasi kebijakan,Aceh Jaya,POPM Filariasis Aceh JayaAbstract

Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit tular vektor yang masih endemis pada Kabupaten Aceh Jaya Provinsi Aceh. Program pengendalian filariasis merujuk pada kebijakan yg sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Pemberian obat pencegahan massal sudah dilakukan selama 5 putaran sampai tahun 2015. Pada tahun 2016 dilakukan survei evaluasi prevalensi mikrofilaria (pre-TAS) dan hasilnya merupakan Kabupaten Aceh Jaya nir lulus survei tersebut. Penelitian ini adalah studi kualitatif yang dilakukan dalam bulan oktober 2017 dengan metode indepth interview. Jumlah responden yang diwawancara merupakan 4 orang. Keberhasilan atau kegagalan eliminasi filariasis ditentukan oleh aspek epidemiologi dan manajemen. Aspek manajemen yg ditelusuri pada penelitian ini yaitu bagaimana implementasi kebijakan pelaksanaan acara pengendalian filariasis. Data dianalisis secara tematik. Hasil analisis data menerangkan bahwa implementasi kebijakan pelaksanaan acara pengendalian filariasis yaitu hadiah obat massal pencegahan berjalan menggunakan baik. Keberhasilan ini ditunjukkan oleh data cakupan minum obat pada wargasetiap tahunnya selalu lebih dari baku nasional. Faktor kegagalan pre-TAS belum diketahui secara pasti. Berdasarkan output evaluasis acara menurut aspek implementasi maka ketersediaan sumber daya insan & anggaran belum aporisma buat pengendalian filariasis.

Filariasis or elephantiasis still an endemic vector borne disease in Aceh Jaya district Province Aceh. Prevention program of filariasis in Aceh jaya district is refers to the government policy. Mass drug administration was done during the fifth round of 2015. The informasi lapangan prevalence of microfilaria (pre-TAS) in Aceh Jaya district 2016 and the result show is failed. This study is a qualitative research and conducted in oktober 2017 with indepth interview methode. The number of respondents interviewed was 4 respondents. The success or failure of filariasis elimination is influenced by epidemiological and management aspects. The management aspect traced is the implementation of the policy for prevention program of filariasis. Data were analyzed thematically. The result showed that the implementation of the policy for prevention program of filariasis is mass drug administration goes well. This success is shown by the annual data on taking medicine in community is always more than the national standard. Pre-TAS failure factor is not known for certain. Based on the evaluation of the program from the implementation aspect, the availability of human resources and the budget is not optimal for filariasis control.References

1. Kementerian Kesehatan RI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 TentangKesehatan. 111 laman.

2. Ditjen PP & PL. “Pedoman Program Eliminasi Filariasis di Indonesia”. Ditjen PP & PL, Depkes RI. Jakarta, 2009.

tiga. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Filariasis. Kementerian Kesehatan RI. 2016. 140 laman.

4. World Health Organization. Global Programme to Eliminate. “Monitoring and Epidemiological Assessment of Mass Drug Adminstration: Lymphatic Filariasis, Manual for National Elimination Programmes”. World Health Organization. 2011.

lima. Subdit Filariasis & Kecacingan. Data Endemisitas Filariasis di Indonesia Sampai Dengan Bulan Juli 2014. Ditjen P2 PL.

6. https://www-media.acehprov.go.id/upload/Aceh_Jaya_Info_v3_Tahun_2013.pdf.

Diakses Tgl 10 November 2018.

7. Belete Mengistu, Kebede Deribe, Fikreab Kebede, et all. The National Programme to Eliminate Lymphatic Filariasis from Ethiopia. Ethiop Med J. 2017 ; 55(Suppl 1): 45–54.

8. Ni Ni Aye , Zaw Lin , Khin Nan Lon , et all. Mapping and modelling the impact of mass drug adminstration on filariasis prevalence in Myanmar. Infectious Diseases of Poverty (2018) 7:56 https://doi.org/10.1186/s40249-018-0420-9.

9. Sébastien D S Pion, Cédric B Chesnais, Gary J Weil, et all. Effect of 3 years of biannual mass drug administration with albendazole on lymphatic filariasis and soil-transmitted helminth infections: a community-based study in Republic of the Congo. Lancet Infect Dis. 2017; 17: 763–69.

10. Ramaito harahap. Analisis Implementasi Kebijakan Program Eliminasi Filariasisdi Kabupaten Labuhanbatu Selatan. [Abstrak Tesis]. Program Studi S2 IIKM-FKM, USU Medan. 2014.

11. Mara Ipa, Endang Puji Astuti, Yuneu Yuliasih, dkk. Kinerja Kader Kesehatan dalam Pengobatan Massal Filariasis di Kecamatan Cibeureum & Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Media Litbangkes, 2018. Vol 28 (1): 1-8.

12. K. D. Ramaiah, K. N. Vijay Kumar, A. V. Chandrakala,et all. Effectiveness of community and health services-organized drug delivery strategies for elimination of lymphatic filariasis in rural areas of Tamil Nadu, India. Tropical Medicine and International Health. 2010. 6 (12): 1062-1069

13. Mara Ipa, Endang Puji Astuti, Andri Ruliansyah, dkk. Gambaran surveilans filariasis di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ekologi Kesehatan.2014.Vol 13 (2) : 153-164.

Yulidar Y, Marissa N, Wilya V, Rosdiana R, Fitria E, Manik U, Randiana E, Muhsi I. EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN FILARIASIS DARI ASPEK IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DI KABUPATEN ACEH beasiswa JAYA PROVINSI ACEH. sel [Internet]. 30Nov.2019 [cited 20Mar.2022];6(dua):101-1. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/2460

Komentar 0
Sembunyikan Komentar

0 σχόλια:

Posting Komentar